AI Law: Bagaimana AI Diterapkan dalam Dunia Hukum?

Sama seperti di perusahaan pada umumnya, firma hukum juga harus mengumpulkan data dan mengarsipkannya, lalu ditindaklanjuti sesuai tujuan masing-masing. Bahkan data yang dikelola firma hukum sangat penting dan sifatnya sangat sensitif, tapi harus tetap mudah diakses saat dibutuhkan. AI law merupakan penerapan kecerdasan buatan di dunia hukum yang dapat sangat membantu kinerja firma.

AI sendiri menggunakan berbagai elemen mulai dari machine learning, natural language processing, hingga robotics yang dapat diterapkan di firma hukum. Sebenarnya apa kelebihan penerapan AI di dunia hukum dan seperti apa penerapan nyatanya? Simak info selengkapnya di bawah ini.

Kelebihan AI dalam Dunia Hukum

Penggunaan generative AI di firma hukum sudah terbukti bisa menjadi tiket emas untuk meningkatkan produktivitas, pengambilan keputusan berbasis data, dan peningkatan daya saing di tengah pasar yang sangat kompetitif. Tidak mengherankan jika banyak profesional di bidang hukum yang memanfaatkan AI di firma mereka, terutama para pengacara.

Jika sedang mempertimbangkan penerapan AI di bidang hukum, berikut ini adalah beberapa manfaat utama AI untuk digunakan di firma hukum:

1. Meningkatkan Produktivitas

Para profesional di bidang hukum dapat memanfaatkan AI untuk mengotomatisasikan berbagai tugas rutin yang biasanya memakan banyak waktu dan tenaga. Dengan otomatisasi tugas-tugas ini ke algoritma kecerdasan buatan, maka petugas hukum dapat lebih fokus pada fungsi yang inti dan menghabiskan lebih banyak waktu dengan klien.

Tugas manual seperti mencari kasus tertentu, menemukan kontrak, membuat faktur, dan lain sebagainya dapat diserahkan ke AI dengan lebih cepat, sehingga memperkecil kemungkinan terjadinya human error. Hasilnya, AI yang digunakan oleh pengacara dapat meningkatkan produktivitas dan efisiensi untuk menangani berbagai macam kasus.

2. Meningkatkan Akses Terhadap Keadilan

Banyak masyarakat yang enggan untuk meneruskan berbagai kasus ke jalan hukum karena tak dapat dipungkiri anggapan bahwa hukum itu mahal masih sangat kuat. Tidak semua orang mampu berurusan dengan hukum dan menyelesaikannya hingga tuntas. AI dapat membantu mengatasi masalah ini dan menjadikan layanan hukum lebih mudah diakses.

Bagaimana caranya? AI yang dipadukan dengan machine learning dapat menghemat waktu para petugas hukum yang biasanya mereka habiskan untuk pekerjaan rutin. Dengan begitu, ini dapat membantu mengurangi biaya yang harus dibayarkan klien.

Misalnya, tanpa menggunakan AI, maka pengacara harus melakukan penelitian sebuah kasus selama lebih dari 24 jam. Biaya yang harus dibayar klien pun sangat tinggi. Sementara dengan teknologi AI, penelitian yang sama mungkin bisa diselesaikan dalam 5 menit saja. Meskipun sama-sama membayar selama 24 jam, tapi hasil yang didapat pengacara dengan bantuan AI akan jauh lebih banyak.

3. Klien Mendapat Penanganan Lebih Baik

Sama seperti penerapan AI pada sektor industri lainnya, di dunia hukum juga klien bisa mendapatkan layanan yang lebih baik. Seperti yang sudah disinggung sebelumnya. AI dalam praktik hukum dapat memberikan lebih banyak waktu bagi pengacara dan praktisi hukum lainnya, sehingga mereka dapat menghabiskan waktu tersebut bersama klien dan menciptakan pengalaman yang lebih dekat dan bermakna.

Praktik hukum bukan sekedar membantu orang dalam menangani kasus yang sedang mereka hadapi saja, pengacara harus mampu menciptakan hubungan baik dengan kliennya dan memahami mereka. Meluangkan cukup waktu dengan setiap klien dan menemukan pendekatan yang unik untuk mengerti apa yang mereka alami sangat penting. AI dapat membantu pengacara mencapai hal ini sekaligus menghemat waktu mereka.

Bagaimana Pengacara Dapat Memanfaatkan AI?

Seperti apa pengacara dapat menerapkan AI secara nyata? Ini dia beberapa contohnya:

1. E-Discovery

E-Discovery merupakan penemuan elektronik dalam hukum, mulai dari proses mengumpulkan, menyimpan, meninjau, dan bertukar info terkait kasus yang sedang ditangani dalam format elektronik, bukan dalam bentuk kertas.

Mencari info yang terperinci dan relevan sangat merepotkan kalau harus disimpan dalam bentuk kertas. Ada banyak sekali data yang harus ditinjau pengacara, dan risiko terbuangnya sangat besar. AI sangat membantu pengacara di tahap ini.

2. Penelitian Hukum

Penelitian hukum masih perlu dilakukan dan AI dapat membantu prosesnya jadi lebih mudah. Saat menggunakan AI. mereka dapat mencari dan memindai database undang-undang, peraturan, yurisdiksi, hukum kasus, dan masih banyak lagi, dengan cara yang lebih mudah dan tanpa membuang banyak waktu. Karena sudah tidak berbentuk kertas, pencarian dapat diselesaikan dalam hitungan detik.

3. Manajemen dan Otomatisasi Dokumen

Document generative AI sangat membantu d firma hukum karena begitu banyaknya data yang perlu ditinjau untuk satu kasus saja. Data-data digital ini dapat diarsipkan secara elektronik dan diakses dengan metode yang lebih tertata. Begitu dibutuhkan, akses menuju ke dokumen tersebut juga mudah. Berbagai kerja manual dalam menata dokumen juga dapat diotomatisasi.

Tantangan Penggunaan AI dalam Dunia Hukum

Teknologi AI yang bisa digunakan saat ini sudah sangat maju, tapi tentu tetap ada kekurangannya. Karena itu, dalam praktiknya AI juga menghadapi berbagai tantangan. Di bidang hukum, tantangan yang dihadapi AI antara lain adalah:

1. Pelanggaran Privasi

AI dapat digunakan untuk mengumpulkan info tentang pihak lawan dan lalu menyerang mereka di pengadilan. Tapi, bukan berarti fungsi ini bisa dibenarkan 100%. Pengacara tetap harus sangat berhati-hati dalam menggunakan data yang dikumpulkan AI, karena info semacam ini bisa dianggap melanggar undang-undang privasi yang dapat berbalik menyerang pengacara dan kliennya sendiri.

2. Pertimbangan Etis

Secara default, komputer tidak punya pandangan dan keyakinan yang berbasis moral atau etika. Komputer adalah mesin yang diisi informasinya oleh manusia, sehingga dapat berfungsi dengan baik. Ai sering memproses data historis tapi tidak memiliki pertimbangan etis. Sehingga datanya perlu diolah lagi agar tidak menyinggung pihak-pihak tertentu di pengadilan.

3. Intellectual Property (IP)

Hingga kini, karya apa pun yang dibuat dengan algoritma AI tidak dapat dilindungi oleh undang-undang hak cipta apa pun, sehingga bisa timbul masalah kekayaan intelektual. Misalnya kita ada di situasi di mana AI menghasilkan data baru yang dianggap inovatif. Siapa yang berhak memilikinya? Ini akan menjadi masalah sendiri di bidang hukum.

Penerapan AI law masih membutuhkan pengawasan dari manusia secara manual agar tidak salah penggunaannya. Meski begitu, solusi AI sangat membantu dalam menyederhanakan berbagai tugas manual, sehingga pengacara dapat lebih fokus pada klien.

Dibutuhkan platform AI yang berkualitas seperti BigBox sebagai End-to-End Data Management & Analytics Platform dari PT Telkom Indonesia, agar dapat mengolah data dan mengotomatisasi tugas dengan baik. Telah dipercaya oleh berbagai perusahaan, kunjungi wed BigBox untuk info fitur selengkapnya.

0 Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Hak cipta © 2021 BigBox. Hak cipta dilindungi Undang-undang. Berbagai merek dagang dipegang oleh pemiliknya masing-masing. Kebijakan Privasi  |  Syarat & Ketentuan

CONTACT US

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Sending

Log in with your credentials

or    

Forgot your details?

Create Account